Mediametrotapraya.news humbahas— Rab, (29-July-2026). Pernyataan Wakil Bupati Humbang Hasundutan yang menyatakan tidak dilibatkan dalam perencanaan maupun persiapan HUT ke-23 Kabupaten, serta mengaku minim informasi terkait seluruh rangkaian kegiatan, patut dipertanyakan kesesuaiannya dengan mekanisme tata kelola pemerintahan yang berlaku. Sebelum menyampaikan tuduhan di hadapan publik, sudah selayaknya setiap pejabat memegang teguh prinsip akuntabilitas, kehati-hatian, dan keterbukaan pembuktian.
Pertama, apakah sudah ada surat undangan rapat atau pemberitahuan resmi yang tidak disampaikan kepada Wakil Bupati? Jika tidak ada bukti tertulis bahwa undangan atau informasi memang tidak pernah disampaikan, maka pernyataan “tidak dilibatkan” belum dapat dijadikan fakta yang sahih. Dalam tata kelola pemerintahan, pelibatan pejabat bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan mengikuti alur administrasi dan mekanisme kedinasan yang berlaku. Apakah Wakil Bupati pernah meminta secara tertulis salinan undangan, jadwal, atau panduan kegiatan kepada Sekretariat Daerah atau panitia penyelenggara? Jika belum, maka belum cukup alasan untuk menyalahkan pihak lain atas ketidaktahuan tersebut.
Kedua, masalah pakaian kedinasan adalah hal yang dapat dikonfirmasi dan dipastikan jauh sebelum acara berlangsung. Mengaitkan pemilihan pakaian dengan alasan tidak diberi informasi, lalu menyebutkan hal itu akan mempermalukan diri sendiri, justru terkesan dilebih-lebihkan. Seharusnya, sebagai pejabat yang berpengalaman, Wakil Bupati dapat menanyakan langsung kepada panitia atau Sekretariat Daerah terkait aturan pakaian jauh sebelum acara dimulai, bukan baru mengemukakannya saat acara berlangsung dan dihadapan publik. Apakah sudah ada upaya konfirmasi yang dilakukan sebelumnya? Jika belum, maka hal itu menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat.
Ketiga, keluhan tidak memiliki staf dan ajudan harus ditelusuri secara objektif. Apakah pengurangan atau peniadaan staf dan ajudan dilakukan secara sepihak tanpa dasar aturan? Atau justru berkaitan dengan penataan kepegawaian dan efisiensi yang berlaku bagi seluruh pejabat? Pernyataan yang hanya menyampaikan satu sisi cerita tanpa menyertakan dasar aturan atau keputusan resmi, dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru di tengah masyarakat. Masyarakat berhak mengetahui apakah ada keputusan tertulis yang menjadi dasar penataan tersebut, atau hal ini hanyalah penafsiran sepihak.
Keempat, seruan agar tidak hanya “lips service” dan menghilangkan ego sektoral adalah seruan yang sangat baik — namun seharusnya dimulai dari diri sendiri. Sikap menyampaikan tuduhan di hadapan publik tanpa terlebih dahulu menyelesaikannya melalui jalur kedinasan dan musyawarah, justru berpotensi menumbuhkan ego sektoral dan memecah kesatuan. Sinergi dan persatuan tidak dibangun dengan menyampaikan kekecewaan di media terlebih dahulu, melainkan dengan duduk bersama, membuktikan dengan dokumen, dan mencari solusi secara bermartabat. Jika memang ada kekurangan dalam pelibatan, sampaikanlah secara tertulis dan kedinasan, agar dapat diperbaiki bersama.
Kelima, perayaan HUT ke-23 Kabupaten Humbang Hasundutan tetap berjalan dengan khidmat dan penuh makna berkat kerja keras seluruh jajaran panitia dan elemen masyarakat. Menilai perayaan hanya dengan kesan “biasa saja” tanpa melihat rincian rangkaian kegiatan, partisipasi masyarakat, serta nilai-nilai yang ditanamkan, adalah penilaian yang kurang mendalam. Setiap perayaan memiliki keterbatasan dan ruang perbaikan, namun hal itu sebaiknya disampaikan sebagai masukan membangun, bukan sebagai tuduhan yang melemahkan semangat kerja seluruh pihak yang telah berkontribusi.
Kepada seluruh elemen pemerintahan, mari kita tegaskan: Membangun Humbang Hasundutan membutuhkan kerjasama yang tulus, saling melengkapi, dan berbicara berdasarkan data serta dokumen resmi. Jangan biarkan selisih paham yang belum dibuktikan dengan fakta menjadi konsumsi publik yang memecah belah. Jika ada keluhan, salurkan lah melalui jalur kedinasan yang benar, buktikan dengan dokumen, dan selesaikanlah dengan kepala dingin. Demi kemajuan Humbang Hasundutan, mari kita hilangkan ego — dimulai dari setiap diri kita sendiri.(@Hrp)













