Mediametrotapraya.news, humbahas- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Humbang Hasundutan melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) melaksanakan Pelatihan Kriya Batu-batuan selama 2 (dua) hari, Kamis dan Jumat 9-10 Juli 2026, di Tourism Information Center (TIC) Desa Banurea, Kecamatan Pakkat.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Humbang Hasundutan, Dina V.W.O. Simamora, dalam sambutannya berharap pelatihan ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang ekonomi kreatif akan mendorong lahirnya produk-produk unggulan yang tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat promosi pariwisata Humbang Hasundutan melalui souvenir khas daerah.
Sementara Kabid Ekonomi Kreatif Disparpora Humbang Hasundutan, Libertyna Pinem, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan teknis dan artistik dalam mengolah batuan alam menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi.
Pengelola Objek Wisata Seribu Goa, Chandra Mahulae, menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan dampak positif secara langsung karena mampu meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya para pelaku ekonomi kreatif di Desa Banurea.
Narasumber pelatihan, Cocos Trisada Dasawulan, menjelaskan bahwa batu-batuan alam yang terdapat di Desa Banurea memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang mengikuti tren pasar. Melalui inovasi desain, batu-batuan tersebut dapat diolah menjadi berbagai souvenir khas daerah yang unik dan berdaya saing.
Selama pelatihan, peserta mempelajari seluruh tahapan pengolahan batu, mulai dari bongkahan batu mineral menjadi lempengan, dibentuk, dihaluskan, hingga dipoles menjadi produk siap pakai. Hasil akhirnya berupa berbagai aksesori seperti kalung, gelang, cincin, gantungan kunci, dan produk fashion lainnya.
Desa Banurea memiliki potensi batuan mineral yang melimpah, di antaranya jenis Chalcedon, Agate, dan Jasper. Salah satu yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah Banuarea Agate Mineral Stone, batu akik khas Banurea yang memiliki corak alami berwarna merah, putih tulang, cokelat, hingga hitam keabuan dengan motif menyerupai kue kuping gajah. Keunikan tersebut dinilai memiliki nilai estetika tinggi dan berpotensi menjadi produk fashion maupun souvenir yang khas.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga dibekali wawasan untuk mengembangkan inovasi produk berbasis potensi lokal. Ke depan, peserta akan mendapatkan pendampingan lanjutan dari narasumber, mulai dari pengembangan desain, strategi pemasaran, hingga perluasan akses pasar. Diharapkan, produk kriya batu-batuan khas Banurea mampu menjadi ikon ekonomi kreatif baru yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(@Hrp)













