Hami Ma Silaban, Masihol Dihasadaan — Ketika Darah dan Doa Menyatukan Dunia

0-0x0-0-0#

Tipang, Humbahas Jumat 10 Oktober 2025
Mediametrotapraya.news

Di bawah langit biru Tipang, Baktiraja, di antara semilir angin Danau Toba yang menari di sela pepohonan, ribuan keturunan Borsak Jungjungan Silaban, boru, dan bere berdiri dalam lingkaran persaudaraan yang nyaris sempurna.
Bukan sekadar pertemuan adat tahunan, tapi sebuah ziarah batin — perjalanan pulang untuk menyapa sejarah, menyentuh tanah asal, dan menyalakan kembali api persaudaraan yang diwariskan leluhur.

Tema besar yang diangkat, “Hami ma Silaban, Masihol Dihasadaan” — Kami, marga Silaban, rindu akan persatuan — tak sekadar slogan. Ia adalah jeritan lembut dari nurani kolektif, di tengah zaman yang sering membuat manusia kehilangan arah di belantara kesibukan dan digitalisasi.

Kekuatan di Balik Doa dan Lagu

Ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Herbin Silaban, M.Th. menjadi pembuka yang menggetarkan. Dalam kotbahnya, pendeta mengingatkan bahwa iman dan adat tidak boleh berjalan di dua jalan yang berbeda. Keduanya harus bergandeng tangan, sebab dari doa lahir kekuatan, dan dari budaya tumbuh jati diri.

Ketika lagu Mars Silaban Borsak Jungjungan berkumandang, udara Tipang seolah ikut berdiri memberi hormat. Suara ribuan orang berpadu, membentuk harmoni yang lebih dari sekadar nyanyian—itu adalah panggilan darah. Lagu itu menyatukan generasi yang lahir di kampung dengan mereka yang hidup di perantauan, bahkan di negeri orang.

Di sana, di tengah lantunan itu, terasa bahwa tradisi tidak pernah usang. Ia hanya menunggu untuk disentuh kembali dengan cinta dan kebanggaan.

Lima Belas Tahun: Dari Akar ke Arah

Perayaan ulang tahun ke-15 PBJS (Persatuan Borsak Jungjungan Silaban, Boru, Bere Indonesia/Dunia) menjadi refleksi perjalanan panjang sejak berdiri tahun 2010.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Sahat Silaban, S.E. menyampaikan bahwa menjaga persatuan keluarga besar di zaman serba terpecah bukan hal mudah. Tapi justru di situlah nilai PBJS diuji: menjadi wadah yang mempersatukan, bukan memisahkan.

Pemotongan kue ulang tahun diiringi perwakilan tiga garis keturunan — Datu Bira, Datu Mangambe, dan Datu Guluan — menggambarkan simbol persatuan yang tak lekang oleh zaman.
Tiga nama itu bukan sekadar silsilah, tapi tiga pilar keseimbangan marga yang harus terus dijaga: adat, iman, dan kebersamaan.

Periodesasi 2025–2030: Regenerasi dengan Wibawa

Momentum penting tiba ketika Prof. Dr. Drs. Pantas H. Silaban, MBA terpilih secara aklamasi menggantikan Sahat Silaban, S.E. sebagai Ketua Umum PBJS periode 2025–2030.
Prosesnya berlangsung hangat, penuh rasa hormat—tanpa gesekan, tanpa ambisi pribadi. Inilah contoh nyata bagaimana nilai hasadaon (persatuan) dihidupkan, bukan sekadar diucapkan.

Ketika menerima Pataka PBJS dari Dewan Penasehat, Prof. Pantas tampak menunduk sejenak — seolah berbicara kepada leluhur dalam diam. Dalam pidatonya, ia menegaskan:

> “Kita bukan hanya berkumpul untuk mengenang masa lalu. Kita hadir untuk merancang masa depan. PBJS harus jadi ruang pemberdayaan, bukan sekadar tempat nostalgia.”

Visi itu membuka cakrawala baru bagi organisasi diaspora Batak: PBJS diharapkan menjadi motor gerakan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang berakar pada nilai adat.

Adat dan Identitas di Era Modern

Secara sosial-budaya, kegiatan ini menunjukkan bahwa marga bukan sekadar nama belakang, tapi fondasi identitas.
Di tengah arus globalisasi, ketika batas geografis memudar dan anak muda makin jauh dari kampung halaman, marga menjadi jangkar moral.
PBJS dengan segala kegiatannya membuktikan bahwa adat Batak tidak bertentangan dengan kemajuan, justru menjadi sumber nilai yang meneguhkan langkah generasi modern.

Dari sudut pandang sosiologis, pertemuan seperti ini juga berfungsi sebagai ritual penyembuhan sosial. Para perantau yang bertahun-tahun hidup di kota besar kembali menemukan makna “rumah” bukan sebagai bangunan, tapi sebagai pelukan saudara sedarah.

Tipang hari itu bukan sekadar lokasi — ia menjelma altar budaya tempat darah dan doa berpadu menjadi satu.

Dari Tipang Menuju Medan 2026

Sebelum acara ditutup dengan doa makan dan salam-salaman, diumumkan bahwa Munaslub PBJS 2026 akan digelar di Medan.
Simbolis sekali — dari Tipang yang sunyi ke Medan yang ramai, dari akar menuju arah.
Inilah perjalanan marga Silaban: dimulai dari tanah, menjelajah dunia, tapi selalu tahu jalan pulang.

Rindu yang Menyatukan

Partangiangan dan periodesasi PBJS tahun 2025 bukan sekadar seremoni organisasi. Ia adalah refleksi tentang konsistensi sebuah marga menjaga nilai di tengah perubahan zaman.

“Hami ma Silaban, Masihol Dihasadaan” kini menjelma sumpah kolektif, bukan sekadar tema acara.
Bahwa persatuan itu bukan hanya dirindukan — tapi diperjuangkan, dirawat, dan diwariskan.

Di bawah langit Tipang, sejarah baru ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan air mata bahagia dan tawa yang tak pernah pudar — tanda bahwa darah Silaban masih mengalir hangat di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *